Jalan Menuju Kubur yang Tak Pernah Libur

VANSLOT – Hujan baru saja reda pagi itu. Hanya tersisa rintik dan genangan, membasahi tanah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur di kawasan Jakarta Barat. Dari bawah tenda, sekelompok penggali sedang bergegas. Berduyun-duyung menuju lahan kubur. Mereka harus segera menggali. Menyiapkan banyak liang lahat khusus jenazah Covid-19. Pagi itu mereka membuat 10 lubang kubur. Tiap lubang berukuran 2,2 meter x 1,2 meter. Ukuran itu telah diperkecil dari standarnya. Sekitar pukul 9 pagi semua kubur akhirnya rampung. Para penggali kembali menepi. Menunggu kedatangan ambulans khusus pembawa jenazah Covid-19. Sebagian kembali ke tenda. Kembali beristirahat sejenak sambil menikmati kudapan teh dan kopi hangat. Baru sekitar 15 menit mereka rehat. Dari kejauhan terdengar suara sirine ambulans. Suasana santai mendadak pecah. Para penggali berseragam kaos hijau ini kembali bergerak. Kaki-kaki bersepatu boots itu melangkah cepat. Sebagian berlari menuju lubang kubur. Mereka berjibaku melewati jalur berlumpur.

“Harus hati-hati sekali kalau habis hujan begini. Jalannya jadi berlumpur,” ungkap salah seorang tukang gali kubur di TPU Tegal Alur yang merdeka.com temui pada Kamis pekan lalu. Sebut saja namanya Mamat.

tpu tegal alur

TPU Tegal Alur memiliki luas 57 hektar. Sejak pandemi datang, sebesar 1,3 hektar lahan dijadikan pemakaman khusus jenazah dengan protap Covid-19. Lokasinya berbeda dengan bagian TPU umum. Kurang dari setahun berjalan, TPU di Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, ini kondisinya hampir penuh. Mereka bahkan tidak lagi bisa menerima jenazah Covid-19 di unit Islam. Hanya tersisa sedikit ruang khusus unit Kristen. Di awal Februari 2021, tercatat sudah lebih 4.500 jenazah dimakamkan dengan protokol Covid-19. Untuk unit Islam bahkan sudah dinyatakan penuh sejak 12 Januari 2021. Kerja para penggali makam seakan tak pernah libur. Selama pandemi Covid-19 melanda, kerja mereka menjadi ekstra. Sejak pagi hingga malam, seperti tiada henti jenazah bergantian dimakamkan. Baru saja rehat sebentar, sudah datang lagi ambulans lainnya. Selalu begitu tiap harinya. Belum juga memasuki waktu istirahat siang, sudah tiga jenazah dengan protokol Covid-19 dimakamkan. Saat itu sebenarnya para petugas penggali bersiap menguburkan jenazah Covid-19 yang keempat. Namun, semua terpaksa menunggu. Permintaan keluarga korban memaksa mereka menghentikan sejenak pekerjaan. Kesempatan itu pun dimanfaatkan untuk mengumpulkan tenaga baru. Sebelum tugas kembali memanggil. Keluarga korban Covid-19 biasanya meminta waktu untuk memberikan penghormatan terakhir. Berhadapan dengan situasi demikian, para penggali kubur rela ikut menunggu. Dengan catatan, keluarga yang datang harus mematuhi protokol kesehatan.

“Kadang protokol dengan hati nurani, lebih kuat hati nurani. Harusnya langsung, tapi mungkin keluarga ingin memberikan penghormatan terakhir,” ungkap petugas pengelola TPU Pondok Alur, Haris, kepada merdeka.com. Baca Selengkapnya